REPUBLIKA - Jumat, 03 Oktober 2003
Sayangnya, keluh Anton, banyak produsen sabun mandi itu enggan melakukan sertifikasi halal. Menghadapi keadaan seperti ini, ia menyarankan, masyarakat hanya membeli merek sabun yang bersertifikasi halal dan mencantumkan label halalnya. Anton pun menganjurkan, masyarakat memperhatikan kemasannya. Cermati bahan apa saja yang digunakan dalam pembuatan sabun tersebut. Ini agar mereka terhindar dari penggunaan sabun mandi yang berbahan najis meskipun menarik hatinya.Saatnya kita ummat muslim negeri ini lebih cerdas dan waspada.
Halal adalah harga mati bagi seorang muslim.Mulailah HIJRAH PRODUK..!HNI HPAI telah menjawab "masalah" di atas. Produk2 yg berkualitas tinggi namun sangat terjangkau, serta selalu di bawah pengawasan Dewan Syari'ah, membuat kita merasa aman dan nyaman dg produk2nya.Insya Allaah...Bahkan, dg berbelanja kebutuhan keluarga di HNI HPAI, di mana semua produk memiliki POIN, sehingga menjadikan kegiatan "Pengeluaran Bulanan" menjadi " Pemasukan Bulanan", dan dapat diwariskan..!
Mandi tak lengkap tanpa sabun. Tanpa menggunakan sabun, air bergayung-gayung pun tak berarti. Maklum, busa sabun dapat diartikan, sebagai pembersih kotoran, bahkan, kuman pada tubuh. Tak ayal, sabun menjadi kebutuhan sehari-hari, masyarakat modern. Tanpa sabun, mandi tak afdal. Tapi, sabun ternyata selain adfdal, selaiknya halal. Maklum, di balik kelembutan dan keharuman busa sabun mandi, masyarakat selaiknya mengetahui bahwa ada sabun yang bahan bakunya berasal dari bahan yang mengandung najis.
Seperti diungkapkan dosen jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, IPB, Anton Apriyantono bahwa bahan baku utama sabun berasal dari garam asam lemak. Pada intinya, menurutnya, garam asam lemak sangat bergantung pada sumber lemaknya. Ada yang bersumber dari hewan maupun nabati (tumbuhan). Berkait dengan hal itu, Anton mengungkapkan, sabun mandi memang cukup rawan sebab ada kemungkinan menggunakan bahan hewani yang dianggap najis.
Baik karena berasal dari babi maupun binatang yang disembelih secara tidak islami. ''Jika demikian keadaanya maka bahan itu najis dan tak boleh dipakai,'' kata Anton Apriyantono kepada Republika, di Bogor, beberapa waktu lalu. Ia menambahkan selain masyarakat mesti mengetahui darimana bahan baku utama sabun berasal, juga memperhatikan aroma wewangian atau parfum yang dicampurkan ke dalam sabun. Jangan sampai mengandung bahan yang najis pula ketika dipakai. Anton mengisahkan, khusus penggunaan bahan hewani yang berasal dari babi, di luar negeri cenderung lebih besar.
Pasalnya, produk lemak hewan ini begitu melimpah dan mereka tentu menyayangkan jika tak dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomis. Ini selain karena lemak babi memang harganya lebih rendah. Masyarakat, menurutnya, memang tak mengetahui secara pasti sabun mandi mana saja yang menggunakan lemak hewani maupun nabati. Dengan demikian masyarakat Muslim rentan menghadapi hal ini. Jangan-jangan merek sabun yang mereka pakai sehari-hari merupakan sabun mandi yang bahannya najis.
Sebab dalam kemasan sabun yang beredar di tanah air, banyak yang tak memberikan informasi lengkap mengenai bahan baku sabun apakah menggunakan lemak hewani maupun nabati. Menurutnya, banyak produk kosmetik selain sabun yang tak menyertakan bahan-bahan pembuatnya. Anton membandingkan, diluar negeri seperti Singapura, bahan-bahan pembuatnya secara lengkap tertera pada kemasan.
Dengan demikian meski tak ada label halalnya, konsumen dapat mengetahui sabun mandi yang mengandung lemak hewani atau pun sebaliknya.''Kita dapat mengetahui secara mudah bahan baku sabun itu dan tak was-was jika sabun itu najis,'' tandasnya. Apa yang mesti dilakukan konsumen di Indonesia? Anton menyatakan menurut sebuah badan riset, Risindo, pada 2001 terdapat 85 merek sabun mandi di pasaran. Dan sudah pasti konsumen akan memiliki beragam pilihan sabun mandi bagi dirinya maupun keluarganya.
Halal adalah harga mati bagi seorang muslim.Mulailah HIJRAH PRODUK..!HNI HPAI telah menjawab "masalah" di atas. Produk2 yg berkualitas tinggi namun sangat terjangkau, serta selalu di bawah pengawasan Dewan Syari'ah, membuat kita merasa aman dan nyaman dg produk2nya.Insya Allaah...Bahkan, dg berbelanja kebutuhan keluarga di HNI HPAI, di mana semua produk memiliki POIN, sehingga menjadikan kegiatan "Pengeluaran Bulanan" menjadi " Pemasukan Bulanan", dan dapat diwariskan..!

Komentar
Posting Komentar